KE'TE KESU DAERAH WISATA DI TANA TORAJA
Kete Kesu Tana Toraja, sebuah desa tradisional kecil
di Kabupaten Tana Toraja (Tator), . Kawasan yang terdiri dari delapan
tongkonan induk, lengkap dengan lumbung beras di depan setiap tongkonan,
memang menjadi salah satu tujuan wisata di Tator.
Lokasinya sekitar tiga kilometer dari jalan raya, atau setengah jam
perjalanan dari Kecamatan Rantepao. dapat menggunakan jasa mobil
angkutan umum dari Rantepao atau menggunakan ojek.
Mendekati lokasi, terhampar pemandangan tongkonan yang berjejer, di sela
rimbunnya pepopohonan dengan latar depan hamparan sawah menghijau.
Tampak warga bersantai di rumah-rumah mereka yang letaknya di belakang
barisan tongkonan. Sementara di belakang dan samping tongkonan , tampak
kios kerajinan dengan perajin menyelesaikan lukisan ukir di dalam kios
masing-masing.
Di Ke’te’ Kesu’, dapat merasakan aroma kehidupan tradisional masyarakat
Toraja. dan deretan tongkonan, yang salah satunya konon sudah berusia
sekitar 150 tahun. Salah satu penandanya, atap yang terbuat dari susunan
bambu, sudah ditumbuhi tumbuhan liar. Suasana pengap , cahaya
matahari samar-samar masuk dari jendela kecil dari bilik di seberang
sebelah depan, yang berseberangan dengan bilik untuk meletakkan jenazah.
Pada deretan tongkonan yang berjajar di Ke’te’ Kesu’, tampak puluhan
tanduk kerbau disusun bergantung di depan setiap tongkonan. pada di
dinding samping sebelah luar, tampak pula tulang rahang yang tersisa
dari kepala kerbau. sebagai penanda berapa banyak kerbau yang telah
dikorbankan saat upacara kematian dilangsungkan.
Kerbau menjadi hewan korban saat kematian, di samping babi. Menurut
kepercayaan setempat, arwah kerbau menjadi sarana transportasi bagi
arwah orang yang meninggal saat menuju puya (surga) yang letaknya di sebelah selatan.
Kubur Batu Tertua
Di kompleks Ke’te Kesu’, pengunjung juga sekaligus dapat
menengok kubur batu, yang letaknya sekitar 50 meter di belakang
tongkonan.
Perjalanan berlanjut dengan menaiki bukit kecil, yang tingginya tak
lebih dari 10 meter. Di sisi kiri jalanan berundak, terdapat bukit batu,
yang dipenuhi dengan lubang-lubang. Di dalam lubang-lubang itu dengan
mudah dijumpai tulang belulang dan tengkorak manusia terserak.
Saat kepala mendongak ke atas, tampak peti-peti kayu yang telah lapuk
tergantung di langit-langit celah batu, dengan penyangga kayu. Dari
dalam peti itu pun tulang belulang dan tengkorak tampak berserakan.
Kubur batu di Ke’te’ Kesu’ termasuk yang tertua di Tator. Usia kubur batu itu diperkirakan lebih dari 700 tahun.
Saat melangkah ke tempat yang lebih tinggi lagi di dalam bukit batu,
dapat dilihat patung-patung kayu sebagai gambaran dari mereka yang telah
dikuburkan di situ. Ada belasan patung yang ditempatkan di dalam sebuah
celah kecil menjorok ke dalam, dengan pintu besi berteralis.
Kubur batu ini pembuatannya cukup rumit dan mahal. untuk membuat satu
kubur batu berukuran lebar dua meter, tinggi dua meter, dan kedalaman
dua meter, butuh tempo 300 hari.
budaya toraja
Rabu, 11 Maret 2015
Senin, 09 Maret 2015
Eksotisme Tradisi dan Budaya Mengagumkan
budayatorajaIndonesia adalah negara besar dan dikelilingi oleh tradisi dan budaya
unik yang mencuatkan decak kagum turis domestik maupun luar negeri. Nah travelers, kali ini Pegipegi akan mengajak kamu untuk melanglang buana hingga ke Sulawesi Selatan, tepatnya ke Tana Toraja.
Tana Toraja sebenarnya berupa dataran tinggi dan sering disebut sebagai ‘Land of Heavenly Kings’. Menjelajahi area yang kental dengan suasana mistis ini tidak akan pernah membuatmu bosan karena terasering padi yang menghijau akan selalu menemanimu. Masyarakat yang tinggal di Tana Toraja juga sangat ramah pada wisatawan dan mereka masih mempraktikkan ritual kuno yang diadopsi dari agama Kristen setelah pendudukan bangsa Belanda.
Pemakaman di Tebing

Tempat pemakaman umum orang dewasa di Tana Toraja adalah di tebing-tebing tinggi dan di sana banyak terlihat patung yang ‘bertengger’ di gua. Terdapat Lemo atau pekuburan gantung, Londa atau pemakaman di bukit, dan Suaya & Sangala atau pekuburan bayi di pohon-pohon.
Travelers, hampir semua wisatawan yang datang ke Tana Toraja ingin menyaksikan ritual-ritual tersebut karena hampir mustahil bisa menemukan di tempat lain. Biarpun arus globalisasi modern terus mengintai, namun masyarakat Tana Toraja tidak terpengaruh. Semua ritual tersebut masih dilakukan hingga kini. Karena pelaksanaan upacara kematian ini tergolong mahal, maka tubuh orang yang sudah meninggal harus diinapkan terlebih dulu selama beberapa tahun hingga uang yang terkumpul cukup untuk Tomate atau pemakaman khas di Tana Toraja.

Upacara pemakaman di Tana Toraja ini memang kaya akan tradisi. Selama pemakaman berlangsung, seluruh keluarga dan handai taulan berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir pada orang yang meninggal. Kalau kamu datang pas ada momen tersebut, di sana kamu akan melihat banyak sekali orang berkumpul dengan beberapa kerbau serta babi yang nantinya akan disembelih di depan para tamu dan dilakukan secara besar-besaran. Biasanya, upacara pemakaman berlangsung selama 3 – 5 hari dan siapa pun yang datang akan diperlakukan dan dijamu seperti keluarga. Kalau kamu berniat datang, jangan lupa bawa ‘hadiah’ ya! Bisa dalam bentuk soft drink, gula, atau rokok.
Tongkonan

Travelers, kalau kamu jalan-jalan ke Tana Toraja, menikmati kecantikan rumah tradisional Tongkonan juga tidak boleh dilewatkan. Rumah-rumah ini punya atap unik dan didekorasi begitu rumit. Rumah ini biasa digunakan untuk Aluktodolo, yaitu semacam ritual keagamaan atau kepercayaan kuno masyarakat Toraja, seperti meyimpan hasil panen di lumbung. Nah karena rumah-rumah ini sangat unik dan cantik, jangan lupa jepret dengan kamera ya buat kenang-kenangan!
Kete Kesu

Setelah puas mengelilingi Tongkonan, selanjutnya kamu bisa datang ke Kete Kesu. Kete Kesu adalah salah satu desa tradisional di area pegunungan dan merupakan desa tertua di distrik Sanggalangi. Konon, Kete Kesu tidak berubah sejak 400 tahun lalu. Tempat ini juga dinobatkan sebagai salah satu lokasi paling lengkap untuk menyaksikan rumah-rumah tradisional, lumbung padi, tempat pemakaman, persawahan, dan tentu saja padang rumput yang digunakan untuk menggembalakan kerbau.
Batutumonga

Dataran tinggi Batutumonga juga tidak boleh kamu lewatkan. Ini adalah spot tertinggi yang ada di Toraja. View-nya begitu spektakuler dengan udara yang masih sejuk. Dari atas, kamu bisa melihat persawahan dengan padi yang menghijau, rumah-rumah tradisional, serta pegunungan kapur yang harus kamu abadikan dalam bidikan kamera. Namun untuk datang ke tempat ini, kamu harus menyiapkan fisik yang kuat dan jangan lupa membawa air minum karena medan yang akan kamu lalui cukup menantang.
Tips
Waktu terbaik untuk datang ke Tana Toraja adalah antara bulan Juni – September, yaitu saat musim kemarau. Kamu juga akan bertemu dengan wisatawan domestik dan mancanegara yang tertarik untuk menikmati tradisi, budaya, dan keindahan alam Tana Toraja, terutama saat panen padi dan upacara pemakaman leluhur yang begitu kompleks dan memakan biaya mahal. Jangan lupa memesan tiket pesawat dan hotel lebih awal di pegipegi agar kamu dapatkan harga terbaiknya
Dan kalau kamu termasuk penikmati kopi sejati, disinilah tempat paling sempurna untuk menyeruput kopi Tana Toraja yang asli. Rasanya tidak hanya fresh, tetapi juga punya citarasa tinggi dan pastinya murah.
Tana Toraja sebenarnya berupa dataran tinggi dan sering disebut sebagai ‘Land of Heavenly Kings’. Menjelajahi area yang kental dengan suasana mistis ini tidak akan pernah membuatmu bosan karena terasering padi yang menghijau akan selalu menemanimu. Masyarakat yang tinggal di Tana Toraja juga sangat ramah pada wisatawan dan mereka masih mempraktikkan ritual kuno yang diadopsi dari agama Kristen setelah pendudukan bangsa Belanda.
Pemakaman di Tebing
Tempat pemakaman umum orang dewasa di Tana Toraja adalah di tebing-tebing tinggi dan di sana banyak terlihat patung yang ‘bertengger’ di gua. Terdapat Lemo atau pekuburan gantung, Londa atau pemakaman di bukit, dan Suaya & Sangala atau pekuburan bayi di pohon-pohon.
Travelers, hampir semua wisatawan yang datang ke Tana Toraja ingin menyaksikan ritual-ritual tersebut karena hampir mustahil bisa menemukan di tempat lain. Biarpun arus globalisasi modern terus mengintai, namun masyarakat Tana Toraja tidak terpengaruh. Semua ritual tersebut masih dilakukan hingga kini. Karena pelaksanaan upacara kematian ini tergolong mahal, maka tubuh orang yang sudah meninggal harus diinapkan terlebih dulu selama beberapa tahun hingga uang yang terkumpul cukup untuk Tomate atau pemakaman khas di Tana Toraja.
Upacara pemakaman di Tana Toraja ini memang kaya akan tradisi. Selama pemakaman berlangsung, seluruh keluarga dan handai taulan berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir pada orang yang meninggal. Kalau kamu datang pas ada momen tersebut, di sana kamu akan melihat banyak sekali orang berkumpul dengan beberapa kerbau serta babi yang nantinya akan disembelih di depan para tamu dan dilakukan secara besar-besaran. Biasanya, upacara pemakaman berlangsung selama 3 – 5 hari dan siapa pun yang datang akan diperlakukan dan dijamu seperti keluarga. Kalau kamu berniat datang, jangan lupa bawa ‘hadiah’ ya! Bisa dalam bentuk soft drink, gula, atau rokok.
Tongkonan
Travelers, kalau kamu jalan-jalan ke Tana Toraja, menikmati kecantikan rumah tradisional Tongkonan juga tidak boleh dilewatkan. Rumah-rumah ini punya atap unik dan didekorasi begitu rumit. Rumah ini biasa digunakan untuk Aluktodolo, yaitu semacam ritual keagamaan atau kepercayaan kuno masyarakat Toraja, seperti meyimpan hasil panen di lumbung. Nah karena rumah-rumah ini sangat unik dan cantik, jangan lupa jepret dengan kamera ya buat kenang-kenangan!
Kete Kesu
Setelah puas mengelilingi Tongkonan, selanjutnya kamu bisa datang ke Kete Kesu. Kete Kesu adalah salah satu desa tradisional di area pegunungan dan merupakan desa tertua di distrik Sanggalangi. Konon, Kete Kesu tidak berubah sejak 400 tahun lalu. Tempat ini juga dinobatkan sebagai salah satu lokasi paling lengkap untuk menyaksikan rumah-rumah tradisional, lumbung padi, tempat pemakaman, persawahan, dan tentu saja padang rumput yang digunakan untuk menggembalakan kerbau.
Batutumonga
Dataran tinggi Batutumonga juga tidak boleh kamu lewatkan. Ini adalah spot tertinggi yang ada di Toraja. View-nya begitu spektakuler dengan udara yang masih sejuk. Dari atas, kamu bisa melihat persawahan dengan padi yang menghijau, rumah-rumah tradisional, serta pegunungan kapur yang harus kamu abadikan dalam bidikan kamera. Namun untuk datang ke tempat ini, kamu harus menyiapkan fisik yang kuat dan jangan lupa membawa air minum karena medan yang akan kamu lalui cukup menantang.
Tips
Waktu terbaik untuk datang ke Tana Toraja adalah antara bulan Juni – September, yaitu saat musim kemarau. Kamu juga akan bertemu dengan wisatawan domestik dan mancanegara yang tertarik untuk menikmati tradisi, budaya, dan keindahan alam Tana Toraja, terutama saat panen padi dan upacara pemakaman leluhur yang begitu kompleks dan memakan biaya mahal. Jangan lupa memesan tiket pesawat dan hotel lebih awal di pegipegi agar kamu dapatkan harga terbaiknya
Dan kalau kamu termasuk penikmati kopi sejati, disinilah tempat paling sempurna untuk menyeruput kopi Tana Toraja yang asli. Rasanya tidak hanya fresh, tetapi juga punya citarasa tinggi dan pastinya murah.
Wisata Budaya Tana Toraja adalah Obyek Wisata Sulawesi Selatan yang paling populer
Tana Toraja merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar itu sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adat serta Upacara Pemakamannya
Ke Tana Toraja dapat menggunakan penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. selama 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dapat pula ditempuh dengan kendaraan darat, membutuhkan waktu tujuh jam.
Perjalanan dari makassar lewat darat ,sebelum memasuki Kabupaten Enrekang, terdapat keistimewaan dan keindahan khas Gunung Buttu Kabobong , yang bentuknya mirip mahkota kesucian sang Dewi (Kata kiasan).
Makale Rantepao
Makale
Rante Pao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja, dihiasi sebuah kolam dengan
diameter puluhan meter dan lampu-lampu hias serta air mancurnya yang
menawan, seolah menyambut kedatangan setiap orang yang tiba di Makale.
dan terkesan mewah
Pagi hari , Matahari bersinar cerah namun diselimuti lapisan kabut , indah dan menakjubkan dikawasan perbukitan di Toraja yang perlahan pupus seiring Kicauan burung dan segarnya udara pagi
Rumah Adat Tongkonan
Rumah
adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa atau daun
kelapa dan dapat bertahan sampai puluhan tahun. Tongkonan juga memiliki
strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat (strata emas, perunggu,
besi, dan kuningan).
MISTIS. kesan yang seketika mencuat saat melongok ke dalam tongkonan tua yang gelap . Jenazah yang disemayamkan di dalam tongkonan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, diatas balai-balai setinggi pinggang di sudut ruang dalam tongkonan.
Di ruang situ jenazah disimpan menunggu acara pemakaman.
Desa Adat Pallawa
Desa adat Pallawa , merupakan desa khas yang masih memiliki 11 bangunan rumah khas Toraja dan 15 lumbung padi khas toraja.
Rumah-rumah beratap susunan bambu tersebut sudah ratusan tahun usianya dan hingga kini masih dipertahankan Susunan tanduk kerbau di bagian depan rumah, menjadi aksesoris yang segera saja menarik mata, begitu juga dengan sebaris taring babi yang digantung di dekat langit-langit di pelataran rumah.
Susunan tanduk kerbau menunjukkan strata sosial pemilik rumah, semakin banyak tanduk berarti semakin kaya karena dia sering mengadakan upacara adat. Sementara taring babi menunjukkan kalau rumah tersebut sudah diupacarakan dalam adat syukuran.
Dapat juga dijumpai peninggalan kebudayaan megalitikum di Boriparinding .Kharisma dan kekokohannya tampak bersinar di antara puluhan batu-batu berukuran raksasa tersebut.
Kawasan pemakaman kuno Londa
Londa
adalah sebuah kompleks kuburan kuno yang terletak di dalam gua. Di
bagian luar gua terlihat boneka-boneka kayu khas Toraja. Patung tersebut
merupakan replika atau miniatur dari jasad yang meninggal dan
dikuburkan di tempat tersebut.
Miniatur tersebut hanya diperuntukkan bagi bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi, warga biasa tidak mendapat kehormatan untuk dibuatkan patungnya.
Kawasan pemakaman LemoTana Toraja merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar itu sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adat serta Upacara Pemakamannya
Ke Tana Toraja dapat menggunakan penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. selama 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dapat pula ditempuh dengan kendaraan darat, membutuhkan waktu tujuh jam.
Perjalanan dari makassar lewat darat ,sebelum memasuki Kabupaten Enrekang, terdapat keistimewaan dan keindahan khas Gunung Buttu Kabobong , yang bentuknya mirip mahkota kesucian sang Dewi (Kata kiasan).
Makale Rantepao
Makale
Rante Pao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja, dihiasi sebuah kolam dengan
diameter puluhan meter dan lampu-lampu hias serta air mancurnya yang
menawan, seolah menyambut kedatangan setiap orang yang tiba di Makale.
dan terkesan mewahPagi hari , Matahari bersinar cerah namun diselimuti lapisan kabut , indah dan menakjubkan dikawasan perbukitan di Toraja yang perlahan pupus seiring Kicauan burung dan segarnya udara pagi
Rumah Adat Tongkonan
Rumah
adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa atau daun
kelapa dan dapat bertahan sampai puluhan tahun. Tongkonan juga memiliki
strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat (strata emas, perunggu,
besi, dan kuningan). MISTIS. kesan yang seketika mencuat saat melongok ke dalam tongkonan tua yang gelap . Jenazah yang disemayamkan di dalam tongkonan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, diatas balai-balai setinggi pinggang di sudut ruang dalam tongkonan.
Di ruang situ jenazah disimpan menunggu acara pemakaman.
Desa Adat Pallawa
Desa adat Pallawa , merupakan desa khas yang masih memiliki 11 bangunan rumah khas Toraja dan 15 lumbung padi khas toraja.Rumah-rumah beratap susunan bambu tersebut sudah ratusan tahun usianya dan hingga kini masih dipertahankan Susunan tanduk kerbau di bagian depan rumah, menjadi aksesoris yang segera saja menarik mata, begitu juga dengan sebaris taring babi yang digantung di dekat langit-langit di pelataran rumah.
Susunan tanduk kerbau menunjukkan strata sosial pemilik rumah, semakin banyak tanduk berarti semakin kaya karena dia sering mengadakan upacara adat. Sementara taring babi menunjukkan kalau rumah tersebut sudah diupacarakan dalam adat syukuran.
Dapat juga dijumpai peninggalan kebudayaan megalitikum di Boriparinding .Kharisma dan kekokohannya tampak bersinar di antara puluhan batu-batu berukuran raksasa tersebut.
Kawasan pemakaman kuno Londa
Londa
adalah sebuah kompleks kuburan kuno yang terletak di dalam gua. Di
bagian luar gua terlihat boneka-boneka kayu khas Toraja. Patung tersebut
merupakan replika atau miniatur dari jasad yang meninggal dan
dikuburkan di tempat tersebut.Miniatur tersebut hanya diperuntukkan bagi bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi, warga biasa tidak mendapat kehormatan untuk dibuatkan patungnya.
Di sini jasad diletakkan di liang-liang dalam sebuah dinding tebing cadas.Dulu orang menatah tebing ini selama bertahun-tahun,sehingga jasad orang yang meninggal bisa ditanam di dalamnya. Semakin tinggi letak petinya, berarti strata sosialnya juga makin tinggi.
Kuburan tertua Desa Kete’ Ke’su.
Sebelum orang mengenal kebudayaan yang lebih maju, orang Toraja menaruh peti-peti mayat di tebing-tebing tanpa menanamnya.Terlihat tulang belulang berserakan di sekitar tebing dan peti-peti kayu yang sudah rapuh dan berlubang dan tampak tulang-belulang didalam peti.
Peti-peti ini usianya sudah ribuan tahun.
Kuburan ini lebih tua umurnya jika dibandingkan dengan kuburan di Londa dan Lemo.
Lihat juga Desa Kete Kesu Tana Toraja
Pekuburan Bayi Kambira
Sebuah kompleks kuburan khusus untuk bayi (baby graves).
. Tampak kotak-kotak persegi hitam menyembul di batang utama
pohon.“Kotak-kotak itu sebenarnya sudah dilubangi dan diisi mayat bayi.Kuburan Bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Rantepao,
Jenazah bayi yang belum tumbuh gigi dikuburkan di atas pohon tarra (Tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir) , pohon tempat “menyimpan” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.
Pohon Tarra – yang buahnya mirip buah sukun – dengan lingkaran batang pohon sekitar 1-3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.
Jenazah dimasukkan ke batang pohon, yang terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi , lalu ditutupi dengan serat ijuk .masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.
Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.
Bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. .Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon dan merupakan daya tarik untuk wisatawan
Upacara Adat
Ritual
upacara adat seperti “Rambu Solo” (upacara kematian) dan “Rambu Tuka”
(upacara syukuran) merupakan momen yang khas dan sangat menarik. Selain
itu, dikenal juga upacara Ma’nene’Seni dan Budaya Kabupaten Tana Toraja ini ,kegiatan upacara adat selalu ada di setiap kecamatan, namun waktu tepatnya memang tidak menentu. Karena upacara tersebut melibatkan seluruh keluarga, biasanya diselenggarakan di hari libur, agar seluruh keluarga bisa berkumpul.
Rambu Solo’, yaitu upacara adat memakamkan leluhur dengan acara Sapu Randanan, dan Tombi Saratu’. dan upacara Rambu Tuka’.
Upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ diiringi dengan seni tari dan musik khas Toraja selama berhari-hari.
Rambu Tuka’ adalah upacara memasuki rumah adat baru yang disebut Tongkonan atau rumah yang selesai direnovasi satu kali dalam 50 atau 60 tahun. Upacara ini dikenal juga dengan nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.
Upacara Rambu Solo’ sepintas seperti pesta besar. Padahal, merupakan prosesi pemakaman. Dalam adat Tana Toraja, keluarga yang ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal. Orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit sehingga harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, dan minuman, serta rokok atau sirih.
Tidak hanya ritual adat yang dijumpai dalam upacara Rambu Solo’. Berbagai kegiatan budaya menarik pun ikut dipertontonkan, antara lain Mapasilaga Tedong (adu kerbau) dan Sisemba (adu kaki).
Upacara pemakaman pada satu keluarga dilaksanakan tergantung waktu dan kesempatan , jadi kemungkinan ada 2-3 keluarga yang telah meninggal baru dilaksanakan.
Namun, persiapannya sudah dilakukan sejak awal , di antaranya pembangunan makam yang menelan dana ratusan juta, termasuk bangunan lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang diberi nomor.
Selama upacara berlangsung, sanak keluarga menginap di lantang. Upacara pemakaman ini termasuk kategori tertinggi (Dipapitung Bongi), yakni selama tujuh malam dan setiap hari dilakukan pemotongan hewan. Jumlah kerbau dan babi yang terkumpul mencapai 150 ekor. Namun, tidak semua dipotong karena sebagian dibagikan ke desa-desa yang membantu terselenggaranya pesta tersebut.
Adu Kerbau
Adu
kerbau (Mapasilaga Tedong). Sebelum diadu, dilakukan parade kerbau. Ada
kerbau bule atau albino, ada pula yang memiliki bercak-bercak hitam di
punggung yang disebut salepo dan hitam di punggung (lontong boke). Jenis
yang terakhir ini harganya paling mahal, bisa di atas Rp 100 juta. Juga
terdapat kerbau jantan yang sudah dikebiri—konon cita rasa dagingnya
lebih gurih.Puluhan kerbau ini dibariskan di lokasi upacara. Selanjutnya, diarak dan didahului dengan tim pengusung gong, pembawa umbul-umbul, dan sejumlah wanita dari keluarga yang berduka ke lapangan yang berlokasi di rante (pemakaman). Di sini kerbau-kerbau ini dibariskan lagi sebelum diarak ke lokasi upacara.
Saat barisan kerbau meninggalkan lokasi, upacara diiringi dengan musik tradisional yang iramanya timbul dari sejumlah wanita menumbuk padi pada sebuah lesung besar dan panjang secara bergantian.
Sebelum adu kerbau dimulai, panitia menyerahkan daging babi yang sudah dibakar, rokok, dan air nira yang sudah difermentasi—disebut tuak, kepada pemandu kerbau dan para tamu.
Setelah semua prosesi dilalui, dilanjutkan dengan adu kerbau di sawah. Adu kerbau diawali dengan kerbau bule.
Partai adu kerbau diselingi dengan prosesi pemotongan kerbau ala Toraja, Ma’tinggoro tedong, yaitu menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas. Semakin sore, pesta adu kerbau semakin ramai karena yang diadu adalah kerbau jantan yang sudah memiliki pengalaman berkelahi puluhan kali.
Rambu Solo’ mencerminkan kehidupan masyarakat Tana Toraja yang suka gotong-royong, tolong-menolong, kekeluargaan, memiliki strata sosial, dan menghormati orang tua. Kerbau bule (Tedong Bonga), termasuk kelompok kerbau lumpur (Bubalus bubalis) yang merupakan spesies yang hanya terdapat di Toraja.
Makam Sarungalo
Di ujung jalan setapak nan teduh menuju kubur batu, terdapat makam Sarungalo. adalah seorang bangsawan yang disegani di Tator. Keluarga besar Sarungalo tinggal di Ke’te’ Kesu’, dan menghibahkannya untuk dijadikan desa wisata.
Sarungalo yang meninggal belasan tahun lalu, dikubur bersama istrinya dalam satu makam modern yang disebut patane. Makam itu tidak sama dengan kubur batu masyarakat Toraja pada umumnya, karena berbentuk rumah. Di atas pintu masuk, pengunjung dengan jelas dapat melihat patung Sarungalo berdiri dengan memakai jas warna kuning dan berpeci.
Ukiran Kayu Tana Toraja
Para perajin yang membuat lukisan ukir kayu. kerajinan khas setempat, yang menggunakan pewarna dari alam.Ada empat warna khas Toraja yang selalu menghiasi baik lukisan ukir kayu maupun kerajinan lainnya. Warna-warna itu adalah hitam sebagai lambang kematian yang menggunakan abu, merah sebagai lambang darah yang menggunakan bahan tanah, lantas kuning yang bermakna kesenangan dengan bahan dari tanah, serta warna putih sebagai simbol kesucian dengan bahan pewarna dari batu kapur.
Kain Khas Tana Toraja
Suvenir
khasnya, Kain khas Tana Toraja (Parambak) yang kaya warna dan motif
bisa didapatkan di desa Sadang Tobarana. Aktivitas menenun dan memintal
benang yang dilakukan oleh para wanita di desa tersebut.Suguhan nasi merah, ikan bakar yang dibumbui sambal dabu dabu yang pedas segar, bakso babi serta minuman khas sejenis tuak manis dan minuman balok selalu tersedia di warung makan khas toraja.
Selain itu, Tana Toraja sudah direkomendasikan untuk dijadikan kawasan warisan budaya dunia ke Unesco PBB.
Menurut para ahli, setiap jengkal di kabupaten Toraja adalah kawasan warisan budaya dunia sehingga harus dilestarikan.
Langganan:
Postingan (Atom)